Jayakartatoday.com, SUKOHARJO — Optimalisasi Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dilakukan di Desa Tawang, Kecamatan Weru, untuk mengatasi krisis air bersih saat musim kemarau. Dua fasilitas Pamsimas yang telah dibangun kini dimanfaatkan ratusan keluarga di Dusun Tawang dan Dusun Bakalan.
Krisis air bersih saat musim kemarau masih menjadi persoalan yang dihadapi sebagian warga Desa Tawang, terutama mereka yang tinggal di kawasan perbukitan dan jauh dari sumber air.
Hampir setiap tahun, Pemerintah Desa Tawang mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo saat puncak musim kemarau. Kondisi itu terjadi karena sejumlah sumber air mengalami penurunan debit bahkan mengering.
“Kami melakukan mitigasi untuk mengatasi krisis air bersih secara permanen dengan membangun Pamsimas di Dusun Tawang dan Dusun Bakalan. Mudah-mudahan ini menjadi solusi permanen untuk mengatasi krisis air bersih,” kata Kepala Desa Tawang, Maryanto, Minggu (21/6/2026).
Menurut Maryanto, Pamsimas di Dusun Tawang dimanfaatkan ratusan keluarga yang tinggal di RT 001 dan RT 002/RW 001. Air dari fasilitas tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan memasak.
Sementara itu, Pamsimas di Dusun Bakalan juga dimanfaatkan ratusan keluarga di RT 001 dan RT 002/RW 003 untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Maryanto menjelaskan pembangunan kedua Pamsimas tersebut didanai melalui APBD Sukoharjo 2025. Meski demikian, kebutuhan sarana penyediaan air bersih di Desa Tawang dinilai masih belum sepenuhnya terpenuhi.
“Sebenarnya masih membutuhkan dua Pamsimas lagi untuk mengatasi krisis air bersih di Desa Tawang. Harapannya bisa segera terealisasi tahun ini atau tahun depan. Tahun lalu ada sekitar 70 keluarga yang mengalami krisis air bersih,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo, mengatakan pembangunan sumur dalam juga menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengatasi kekeringan dan krisis air bersih saat musim kemarau.
Menurut dia, pembangunan sumur dalam terus ditambah melalui kolaborasi dengan perusahaan maupun organisasi kemasyarakatan, khususnya di wilayah Sukoharjo bagian selatan seperti Kecamatan Weru, Bulu, dan Tawangsari.
Pada 2025, tercatat masih ada lima desa yang mengalami krisis air bersih saat musim kemarau. Desa tersebut terdiri atas satu desa di Kecamatan Tawangsari dan empat desa di Kecamatan Weru.
Desa Kedungjambal menjadi satu-satunya desa di Tawangsari yang mengajukan bantuan air bersih. Adapun empat desa di Weru yang rawan kekeringan meliputi Desa Karangwuni, Alasombo, Karanganyar, dan Tawang.
“Hingga hari ini belum ada permohonan bantuan air bersih. Jika ada permohonan, kami akan berkoordinasi dengan Perumda Tirta Makmur Sukoharjo untuk mengirim bantuan air bersih ke daerah yang mengalami kekeringan,” kata Ari.

Leave a Reply