Jayakartatoday.com, SOLO — Lima abdi dalem putri dari Kawedanan Langen Praja membawakan Tari Gambyong Langen Kusumo dalam rangkaian Langkahan dan Siraman G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura di Pura Mangkunegaran, Kamis (5/11/2026).
Tarian tersebut mengiringi perjalanan calon pengantin putri menjelang Dhaup Ageng Mangkunegaran. Gambyong Langen Kusumo menggambarkan keriangan seorang anak perempuan yang tumbuh menuju kedewasaan, mulai mengenal dirinya, dan belajar berhias.
Tema tersebut memperoleh konteks tersendiri ketika ditampilkan dalam rangkaian persiapan pernikahan Gusti Sura yang menandai langkahnya menuju tahap baru kehidupan. Fatma Dayuning Satami, salah satu penari, menjelaskan kisah pertumbuhan perempuan itu disampaikan melalui gerak, ekspresi, dan iringan tari.
“Tarian ini menggambarkan seorang anak remaja yang sedang tumbuh dewasa, mulai mengenal dirinya, dan memperhatikan penampilannya. Gambyong Langen Kusumo menceritakan fase seorang anak perempuan yang beranjak dewasa,” ujar Fatma melalui siaran pers yang diterima Espos.
Fatma bersama empat penari lainnya merupakan abdi dalem putri Kawedanan Langen Praja. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa seni dalam Dhaup Ageng tidak hadir sekadar sebagai hiasan atau pertunjukan tambahan. Seni tersebut dijalankan oleh orang-orang yang mempelajari, merawat, dan meneruskan pengetahuan tari Mangkunegaran.
Tarian tersebut diiringi tembang Pangkur dan Gamelan Kyahi Naga Lima, perangkat gamelan dari masa K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IV yang terus dirawat di Mangkunegaran. Perpaduan tari, tembang, dan karawitan menghubungkan karya yang dipentaskan saat ini dengan pengetahuan seni yang diwariskan lintas generasi.
Melalui Gambyong Langen Kusumo, kisah pertumbuhan menuju kedewasaan disampaikan dalam bahasa gerak sekaligus ditempatkan dalam perjalanan keluarga yang sedang berlangsung. Penampilan para abdi dalem putri ini memperlihatkan tradisi sebagai praktik hidup yang dipelajari, dijalankan, dan diteruskan oleh para pelakunya.

Leave a Reply