Jayakartatoday.com, WONOGIRI—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri bersama kabupaten lintas wilayah yang tergabung dalam kawasan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark (UGGp) mulai mengintensifkan langkah persiapan menyambut Revalidasi III yang dijadwalkan berlangsung pada 2027 mendatang.
Berbagai upaya pembenahan dokumen, peningkatan fasilitas, hingga penguatan peran aktif masyarakat digeber Pemkab Wonogiri dan wilayah lainnya demi mempertahankan predikat prestisius berskala internasional tersebut.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Wonogiri, Haryanto, menyampaikan kawasan Gunung Sewu telah mengantongi pengakuan global dari UNESCO sejak 2015.
Selama perjalanannya, kawasan karst ini telah sukses melewati dua kali tahapan revalidasi pada 2019 dan 2023 dengan hasil gemilang.
“Gunung Sewu ditetapkan di tahun 2015, kemudian revalidasi sudah dilaksanakan dua kali di tahun 2019 dan 2023. Rencana berikutnya di tahun 2027,” ujar Haryanto, baru-baru ini.
Sebagai persiapan krusial sebelum penilaian utama, rangkaian kegiatan Pra-Revalidasi digelar pada 24–27 Oktober 2026.
Kegiatan ini melibatkan tiga kabupaten pengampu kawasan lintas provinsi, yakni Kabupaten Pacitan (Jawa Timur), Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah), dan Kabupaten Gunungkidul (Daerah Istimewa Yogyakarta).
Agenda ini turut menghadirkan evaluator internasional, Prof. Dr. Ibrahim Komoo dari Malaysia, guna meninjau langsung progres di lapangan.
Evaluasi Ketat dan Catatan Pembenahan
Pra-revalidasi bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan instrumen penting untuk memastikan sejauh mana rekomendasi dari hasil revalidasi 2023 telah ditindaklanjuti.
Dalam evaluasi sebelumnya, Gunung Sewu selalu meraih green card, yang menandakan seluruh standar dan rekomendasi UNESCO berhasil dipenuhi.
Meski demikian, Pemkab Wonogiri bersama pengelola lintas daerah terus mengebut sejumlah catatan penting. Beberapa aspek yang menjadi fokus perhatian meliputi:
- Penyempurnaan Dokumen & Visibilitas: Pembaruan dokumen Rencana Induk (Masterplan) Gunung Sewu, optimalisasi informasi digital berbasis dwibahasa (termasuk bahasa Inggris) di situs web dan media sosial, serta penambahan penanda arah (sign system) di setiap geosite.
- Penguatan Infrastruktur: Peningkatan fasilitas Museum Karst Indonesia serta pusat informasi geopark agar kian representatif menyambut wisatawan dan peneliti.
- Mitigasi Bencana & Pengurangan Risiko: Penguatan kerja sama formal dengan lembaga terkait guna meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam seperti tanah longsor, banjir, dan perubahan iklim di kawasan geosite.
- Pelestarian Budaya & Jejaring Internasional: Inventarisasi warisan budaya takbenda seperti batik tradisional dan Wayang Beber, serta mempererat kemitraan dengan jejaring geopark global, termasuk Langkawi Geopark dan UGGp Lenggong di Malaysia.
Di balik kelengkapan dokumen dan infrastruktur, Haryanto menegaskan kunci utama keberhasilan pengelolaan geopark terletak pada keterlibatan aktif masyarakat.
Sesuai prinsip dasarnya, geopark bertumpu pada tiga pilar utama yakni konservasi alam, edukasi publik, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Utama itu sebetulnya masyarakat. Jadi masyarakat itu diedukasi, paham terkait dengan konservasi, baru yang terakhir itu berdampak secara ekonomi,” tegasnya.
Sebagai bentuk nyata komitmen tersebut, Pemkab Wonogiri melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) dan Disporapar telah menggencarkan berbagai program edukasi.
Di antaranya melalui program Geopark Goes to School di SMK Negeri 1 Pracimantoro, sosialisasi pelestarian lingkungan di Dusun Mendak (Desa Petirsari, Kecamatan Pracimantoro), hingga penyelenggaraan Wonogiri Historical Trip yang mengenalkan jejak sejarah geologi purba dan bentang alam karst kepada generasi muda serta wisatawan.
Sinergi Lintas Wilayah Kawasan Pawonsari
Kawasan Gunung Sewu membentang seluas sekitar 1.802 kilometer persegi mencakup 33 situs warisan alam (30 geosite dan 3 situs nongeologi).
Pengelolaannya dijalankan secara terpadu melalui badan kerja sama antar-daerah Pawonsari (Pacitan, Wonogiri, Gunungkidul) dengan sistem sekretariat bergilir setiap tiga tahun.
Meski rotasi sekretariat berpindah, komitmen Pemkab Wonogiri tidak surut. Melalui pelibatan perangkat daerah secara ex-officio dalam struktur pengelola, Wonogiri terus mengoptimalkan potensi lokal—mulai dari geotourism di Lembah Kering Purba Giritontro, Goa Potro Bunder, hingga kekayaan budaya Dusun Mendak—sebagai daya tarik wisata edukatif berstandar global.
Dengan sisa waktu menuju tahun 2027, langkah sinergis dan kesiapan matang yang ditunjukkan Pemkab Wonogiri diharapkan mampu kembali mempertahankan predikat green card, sekaligus mendongkrak kesejahteraan masyarakat lokal melalui sektor pariwisata yang berkelanjutan.

Leave a Reply