Jayakartatoday.com, GUNUNGKIDUL — Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mempertimbangkan untuk melakukan vasektomi atau sterilisasi terhadap monyet ekor panjang jantan, terutama yang menjadi pemimpin koloni.
Ini merupakan salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk mengurai konflik antara manusia dan monyet ekor panjang yang masih terjadi di berbagai wilayah.
Langkah tersebut muncul seiring meningkatnya populasi monyet ekor panjang di Gunungkidul yang diperkirakan telah mencapai lebih dari 1.000 ekor dan tersebar di hampir 80 kalurahan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan upaya penanganan selama ini masih mengandalkan program pemberian pakan. Namun, cara tersebut dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan karena cakupannya masih terbatas.
“Program pemberian pakan baru dilakukan di wilayah Kapanewon Tepus. Potensi serangan monyet terhadap lahan pertanian milik warga masih terjadi,” kata Edy, Jumat (31/7/2026).
Menurut dia, pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi yang lebih efektif dengan menggandeng kalangan akademisi, salah satunya dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Dari hasil koordinasi tersebut, muncul sejumlah alternatif penanganan untuk mengendalikan populasi monyet sekaligus mengurangi risiko konflik dengan warga.
Edy menegaskan pengendalian populasi menjadi bagian penting dalam strategi jangka panjang. Pasalnya, semakin banyak jumlah monyet, potensi kerusakan lahan pertanian dan gangguan terhadap permukiman warga juga dinilai semakin besar.
“Yang jelas populasi monyet harus ditekan agar potensi konflik tidak semakin meluas,” ujarnya.
Meski demikian, ia memastikan pengurangan populasi tidak dapat dilakukan dengan cara membunuh satwa tersebut. Selain bertentangan dengan aturan, tindakan tersebut juga berpotensi memunculkan persoalan baru dalam pengelolaan satwa liar.
“Membunuh monyet dilarang karena malah akan menimbulkan masalah baru,” katanya.
Sebagai alternatif, tim akademisi mengusulkan opsi vasektomi atau sterilisasi terhadap monyet jantan. Sasaran utama adalah individu yang menjadi pemimpin koloni karena dinilai memiliki peran penting dalam perkembangan populasi.
Namun, Edy mengakui pelaksanaan program tersebut tidak mudah. Prosesnya membutuhkan penangkapan satwa, tindakan medis, hingga kajian teknis yang matang agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem.
“Vasektomi pada monyet hanya salah satu opsi karena masih ada beberapa alternatif lain. Yang jelas, untuk menekan potensi konflik, maka populasi monyet harus ditekan. Makanya muncul vasektomi karena mengurangi dengan membunuh monyet merupakan pelanggaran,” katanya.
Selain sterilisasi, pemerintah juga mempertimbangkan pendekatan berbasis habitat dengan memperbanyak tanaman yang menjadi sumber makanan alami monyet. Cara ini diharapkan dapat mengurangi kebiasaan kawanan monyet memasuki lahan pertanian maupun kawasan permukiman warga.
Menurut Edy, terdapat sejumlah jenis pohon yang buahnya menjadi makanan favorit monyet. Penanaman pohon tersebut dapat dilakukan di kawasan yang menjadi habitat atau tempat tinggal koloni sehingga kebutuhan pangan satwa dapat tercukupi tanpa harus mencari makan ke kebun milik warga.
“Ada pohon-pohon yang buahnya disukai monyet sehingga jumlahnya harus diperbanyak di titik-titik yang menjadi tempat tinggal agar ketersediaan pangan mencukupi. Tapi cara ini juga butuh waktu agar berhasil,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan DLH Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto, mengatakan program pemberian pakan bagi monyet ekor panjang sebenarnya telah berjalan sejak 2023.
Pada tahun ini, Pemkab Gunungkidul mengalokasikan dana keistimewaan sebesar Rp160 juta untuk melanjutkan program tersebut. Pemberian pakan kembali dimulai sejak Maret 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga akhir tahun.
“Sudah dimulai lagi untuk memberikan makan kawanan monyet ini sejak Maret,” kata Hana.
Ia menjelaskan program tersebut saat ini dipusatkan di wilayah Kapanewon Tepus, yakni Kalurahan Tepus, Sidoharjo, dan Purwodadi. Masing-masing kalurahan memiliki lima titik lokasi pemberian pakan sehingga total terdapat 15 lokasi yang digunakan untuk menaruh makanan berupa buah-buahan dan singkong.
“Program pemberian pakan akan diberikan hingga akhir tahun,” katanya.
Berbagai opsi yang tengah dikaji tersebut diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi konflik antara manusia dan monyet ekor panjang, tanpa mengabaikan aspek konservasi satwa liar maupun keberlangsungan aktivitas pertanian masyarakat Gunungkidul.
Berita ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul Populasi Monyet Gunungkidul Tembus 1.000 Ekor, DLH Kaji Opsi Vasektomi

Leave a Reply