Wacana Penutupan Prodi, ISNU Jatim: Pendidikan Tak Hanya Kepentingan Industri

Wacana Penutupan Prodi, ISNU Jatim: Pendidikan Tak Hanya Kepentingan Industri
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PW ISNU Jatim Prof Dr M Afif Hasbullah (tengah). ANTARA/HO-ISNU Jatim

Jayakartatoday.com, SURABAYA – Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur mengkritik keras wacana penutupan program studi (Prodi) yang digulirkan pemerintah. Penutupan prodi di perguruan tinggi tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa.

Pelaksana tugas (Plt) Ketua PW ISNU Jatim, M. Afif Hasbullah, mengatakan pendidikan tidak boleh direduksi hanya untuk memenuhi kebutuhan industri jangka pendek. Pendidikan harus diposisikan sebagai fondasi peradaban bangsa.

“Pendidikan dibangun untuk melahirkan peradaban yang unggul, bukan sekadar mengabdi pada kepentingan industri yang sifatnya bisa jangka pendek. Pendidikan harus melampaui [beyond] industri dan teknologi, karena di dalamnya terkandung nilai kemanusiaan, moral, dan etika yang menjadi ruh pembangunan bangsa,” tegas dia di Surabaya, Selasa (28/4/2026).

Sebagai bagian dari komunitas akademik, ia menegaskan organisasi intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk turut mengawal kebijakan pendidikan agar tetap berpihak pada kepentingan bangsa.

“Pendidikan bukan sekadar soal penyerapan tenaga kerja, tetapi juga pembentukan karakter, nilai dan arah masa depan bangsa. Karena itu, kebijakan harus visioner, inklusif, dan berbasis pada kebutuhan jangka panjang Indonesia,” katanya.

Afif menegaskan pihaknya bersedia untuk berdialog dengan pemerintah terkait wacana kebijakan prodi tersebut agar tepat sasaran dan berbasis kajian komprehensif.

“Kami siap jika dilibatkan secara aktif dalam forum dialog bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Kami siap memberikan pandangan akademik, sekaligus menawarkan solusi strategis agar kebijakan yang diambil benar-benar tepat sasaran,” ujar Afif yang dikutip dari Antara.

Usulkan Audit Nasional

Afif menekankan kebijakan penutupan program studi, khususnya kependidikan, tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa tanpa kajian komprehensif dan tidak semata didasarkan pada kepentingan industri jangka pendek.

ISNU Jatim mengusulkan pemerintah melakukan audit nasional berbasis data terhadap relevansi program studi dengan kebutuhan pasar kerja, termasuk memetakan faktor penyebab pengangguran lulusan.

“Harus dibedakan mana persoalan kualitas lulusan dan mana persoalan keterbatasan lapangan kerja,” ujarnya.

ISNU Jatim juga mendorong revitalisasi kurikulum program studi, khususnya keguruan, melalui integrasi dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi digital, termasuk penguatan soft skills dan konektivitas dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Afif mengusulkan penerapan kebijakan moratorium selektif dan evaluatif terhadap pembukaan program studi baru dengan standar kelayakan yang lebih ketat.

“Jangan sampai terjadi over supply pada bidang tertentu karena lemahnya kontrol perizinan,” tegasnya.

Menurut dia, penguatan pada bidang keilmuan dasar, baik sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) maupun ilmu sosial dasar, menjadi fondasi utama pembangunan jangka panjang di era transformasi digital.

ISNU Jatim juga mengusulkan skema insentif dan afirmasi dari pemerintah bagi program studi strategis, termasuk dukungan pendanaan, peningkatan kualitas dosen, serta penguatan infrastruktur pendidikan.

“Prodi yang dibutuhkan jangan hanya dibiarkan bertahan, tetapi harus didorong untuk unggul,” tambahnya.

Selain itu, ia mengusulkan pembentukan forum kolaboratif nasional yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia industri, dan organisasi profesi untuk merumuskan arah kebijakan pendidikan tinggi secara berkelanjutan.

Leave a Reply