Fakta Terlupakan: Kartini Pernah Bawa Ukir Jepara ke Panggung Dunia

Fakta Terlupakan: Kartini Pernah Bawa Ukir Jepara ke Panggung Dunia
Seorang perempuan sedang melakukan proses mengukir di Jepara. (Dok. Panitia Pameran TATAH 2026)

Jayakartatoday.com, SEMARANG — Seni ukir Jepara bukan sekadar guratan pada sebatang kayu. Di balik keindahannya sebagai warisan budaya, tersimpan jejak sejarah yang pernah membawa Jepara menembus panggung dunia melalui sosok Raden Ajeng Kartini, sebuah kisah yang perlahan memudar dari ingatan publik.

Peneliti Rumah Kartini Jepara, Susi Ernawati Susindra, mengungkap kembali jejak tersebut setelah menelusuri lebih dari 236 pucuk surat keluarga Kartini. Penelusuran itu membuka sisi lain sejarah yang selama ini jarang mendapat ruang dalam narasi arus utama.

Dari temuan tersebut, Susi menegaskan bahwa gagasan Kartini tentang penguatan ekonomi kreatif telah tumbuh jauh sebelum namanya dikenal melalui korespondensi dengan tokoh-tokoh Eropa.

“Selama ini kita tahunya Kartini mengenal Stella itu sebagai awal dari sebuah kisah. Jauh sebelum Kartini mengenal Stella, Abendanon, Adriani, atau tokoh-tokoh progresif lainnya, saat masih berusia belasan tahun (Kartini) sudah mempersiapkan sebuah pameran untuk industri kriya perempuan,” kata Susi kepada Espos, Selasa (21/4/2026).

Saat berusia 19 tahun, lanjut Susi, Kartini memprakarsai proyek percontohan pemberdayaan masyarakat di Desa Blakang Goenoeng (kini Desa Mulyoharjo). Bersama perajin andal, Singowiryo, ia menyiapkan karya untuk dipamerkan dalam De Nationale Tentoonstelling van Vrouwenarbeid di Den Haag pada 1898.

Dalam ajang tersebut, Kartini tidak sekadar mengirim karya ukir. Ia menyusunnya sebagai representasi budaya yang terkurasi untuk menghidupkan kembali kriya ukir Jepara yang kala itu melemah. Sekitar 20 karya perempuan dikirim dengan bingkai berukir khas Jepara yang menegaskan identitas asalnya.

Bahkan secara berani, Kartini bersama dua adiknya, Kardinah dan Roekmini, memamerkan karya mereka di Paviliun Jepara Nomor 14 dengan menggunakan nama sendiri.

“Mereka menyebut nama mereka sendiri untuk memberi tahu bahwa kami orang Jawa, kami gadis-gadis Jawa itu sudah siap untuk keluar, bahwa karya-karya kami itu penting untuk diperhatikan,” ujar Susi merefleksikan temuan historis tersebut.

Mendobrak Batas Kultural di Balik Ukir Jepara

Langkah Kartini tidak selalu berjalan mulus. Di tengah keterbatasan sosial sebagai perempuan bangsawan, ia kerap dianggap melampaui batas, terutama saat mendorong pengembangan motif wayang dalam ukiran Jepara.

Inovasi tersebut sempat ditolak karena dianggap mengandung pantangan adat. Para perajin di Desa Blakang Goenoeng pun sempat ragu untuk mengerjakannya.

Namun situasi berubah ketika Bupati Sosroningrat, ayah Kartini, turun tangan memberikan jaminan kultural dengan mengambil peran sebagai pemesan. Langkah ini menjadi titik balik yang membuka jalan bagi motif wayang Jepara menembus pasar internasional.

Jejak Kartini tidak berhenti di Belanda. Karya ukir Jepara terus melaju ke berbagai pameran dunia, termasuk di Paris, hingga mencapai salah satu puncaknya dalam Pameran Industri Kelima di Osaka, Jepang.

“Pada pameran di Osaka itu Kartini mengirimkan satu set karya yang mencakup sebuah sketsel (penyekat ruangan) yang sangat indah, sebuah mahakarya yang kemudian diabadikan detailnya dalam catatan sejarah,” ungkapnya.

Perempuan dan Ekosistem Ukir Jepara yang Bertransformasi

Dalam konteks sosial Jepara, perempuan memiliki posisi penting dalam ekosistem ukir. Susi menjelaskan, dalam tradisi rumah tangga, perempuan justru menjadi titik awal proses produksi.

“Kalau di tradisi rumah tangga di Jepara untuk ukir itu, perempuan itu sebagai yang pertama, wajah pertama untuk di situ, sementara para laki-lakinya itu sibuk di brak (tempat kerja) untuk membuat kreativitas,” jelas Susi.

Seiring waktu, peran perempuan berkembang ke ranah yang lebih luas, mulai dari desain, pemasaran, hingga pelaku usaha kriya. Transformasi ini mencerminkan pergeseran dari kerja domestik menuju industri kreatif yang lebih terbuka.

Susi juga mencatat, minat perempuan masa kini untuk belajar mengukir mulai tumbuh, terinspirasi dari jejak Kartini. Namun, ia menilai Jepara masih kekurangan literasi tentang seni ukir dari perspektif masyarakat lokal.

Untuk menjawab kekosongan tersebut, seluruh temuan sejarah itu akan dihimpun dalam sebuah buku riset. Peluncurannya dijadwalkan bersamaan dengan pameran TATAH 2026: Suluk-Sulur-Jepara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pada 29 April hingga 5 Juli 2026.

Leave a Reply